MSCI sepertinya sudah capek lelah diprank terus2an. Sejumlah saham berkualitas rendah diangkat secara agresif agar memenuhi kriteria masuk indeks MSCI, hingga valuasinya menjadi tidak rasional. Setelah resmi masuk MSCI, arus dana global justru dimanfaatkan sebagai likuiditas exit oleh para pemain besar untuk melepas saham di harga tinggi. Peringatan tegas dari MSCI menjadi sinyal keras bahwa praktik semacam ini tidak lagi ditoleransi. Ke depan, para big players akan dipaksa lebih berhati-hati karena pengawasan terhadap free float, struktur kepemilikan, dan kualitas likuiditas akan jauh lebih ketat.
Pada 27 Januari 2026, MSCI mengeluarkan pengumuman penting terkait pasar saham Indonesia. Di permukaan, isu yang dibahas terdengar teknis: free float , Foreign Inclusion Factor (FIF) , dan metodologi indeks. Namun jika dibaca lebih dalam, pesan MSCI jauh lebih serius. Ini bukan sekadar soal rumus indeks, melainkan soal kepercayaan global terhadap pasar modal Indonesia . Pengumuman ini menjadi semacam stress test reputasi pasar. Dan hasilnya, Indonesia belum lulus sepenuhnya. Masalah Utama: Transparansi Kepemilikan & Investability MSCI menyatakan bahwa meskipun ada perbaikan minor pada data free float dari Bursa Efek Indonesia (IDX), masalah fundamental masih belum terselesaikan . Investor global menyoroti beberapa hal krusial: Struktur kepemilikan saham yang tidak transparan Dominasi nominee dan konsentrasi pemegang saham Kekhawatiran coordinated trading yang mengganggu price discovery Keterbatasan data granular untuk memverifikasi free float riil Dalam bahasa MSCI, i...