LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Peta Saham Data Center & AI di BEI

Dari MGLV yang naik 4.841% YTD hingga DCII dengan PER 427x, ini peta lengkap ekosistem saham data center dan AI di BEI beserta analisisnya.


Tren data center dan AI bukan lagi sekadar narasi — pasar sudah mempricing-nya, dan hasilnya cukup ekstrem di beberapa emiten. Tapi dispersi kinerja antar saham di ekosistem ini sangat lebar, yang artinya tidak semua pemain mendapat manfaat yang sama.

Mulai dari yang paling mencolok: MGLV mencatat return YTD 4.841%. Bukan typo. Saham ini masuk kategori pure-play & AI data center setelah akuisisi aset MettaDC — fasilitas 36MW di Cikarang dan 60MW AI-grade di Batang. Masalahnya, EPS growth tahunan tercatat -236% dan PBV sudah di 189.2x tanpa PER yang bisa dihitung (perusahaan masih rugi). Ini classic re-rating story berbasis ekspektasi, bukan earnings. Risikonya proporsional.

DCII di sisi lain punya EPS growth 26% — salah satu yang positif di kategori pure-play — tapi valuasinya sudah di PER 427.5x dan PBV 103x, sementara price YTD hanya naik 1%. Artinya pasar sudah fully priced jauh sebelumnya, dan saat ini saham ini essentially bergerak sideways sambil menunggu earnings catch up.

EDGE menarik karena return YTD 62% meski EPS growth negatif 48%. Colocation play via EDGE1 dan EDGE2 ini tampaknya masih dalam fase ramp-up kapasitas, sehingga profitabilitas belum optimal. PER 159.4x tapi PBV hanya 5.4x — jauh lebih moderat dibanding DCII — menunjukkan base aset yang lebih reasonable meski earnings masih tertekan.

Di luar pure-play, dua nama yang outperform secara harga adalah ELIT (+308% YTD) dan DMAS (+581% YTD). ELIT bermain di managed cloud dan hybrid infrastructure dengan PER 16.3x — valuasi yang jauh lebih masuk akal untuk growth 30%. DMAS adalah kawasan industri yang menjadi landlord hyperscale DC, termasuk AWS di GIIC Cikarang. EPS growth memang -40%, tapi land bank play seperti ini sering dinilai dari pipeline penjualan lahan, bukan earnings kuartalan.

INET mencatat EPS growth 1.622% — angka yang luar biasa tapi perlu diletakkan dalam konteks base effect yang kemungkinan sangat rendah. PER 158.9x dengan PBV 2.1x, dan price YTD tercatat -250%. Angka YTD negatif di sini kemungkinan mengindikasikan koreksi dari level yang sudah terlalu tinggi sebelumnya.

Untuk segmen telco-to-DC, ISAT jadi yang paling clean: EPS growth 12%, PER 10.9x, PBV 2.2x, dan YTD +86%. Kemitraan dengan BDx dan Zankore untuk DC berorientasi AI memberikan growth story yang konkret tanpa valuasi yang sudah bubble. TLKM sebaliknya — EPS growth -21% dan YTD -259%, meski punya NeutraDC dan hub Batam sebagai aset strategis. Transisi bisnis dari telco ke DC membutuhkan waktu, dan pasar belum sabar.

Di infrastruktur pendukung — fiber, menara, konektivitas — hampir semua nama underperform YTD: MORA (-548%), MTEL (-343%), TOWR (-224%), KETR (-206%). Padahal secara fundamental beberapa cukup solid: MORA punya EPS growth 90%, KETR 63%. Ini menunjukkan rotasi pasar yang sangat selektif — investor memilih pure-play dan kawasan industri, sementara enabler infrastruktur diabaikan meski earnings-nya lebih stabil.

KIJA layak diperhatikan di kategori kawasan industri: EPS growth 164%, PBV 0.8x, dan klaster lahan DC yang ditopang pembangkit listrik mandiri via Bekasi Power. Valuasi di bawah book value dengan growth earnings yang kuat adalah kombinasi yang jarang ditemukan di ekosistem ini. YTD hanya +19%, artinya belum banyak yang melirik.

Secara keseluruhan, ekosistem data center & AI di BEI sudah sangat heterogen dalam hal valuasi dan kinerja. Yang perlu dipahami investor: hype play seperti MGLV dan DCII sudah memiliki risk-reward yang sangat asimetris ke bawah, sementara beberapa nama di infrastruktur dan kawasan industri masih menawarkan margin of safety yang lebih layak.