Langsung ke konten utama

Postingan

Final Battle Hormuz: Penentu Nasib Dollar, Pasar, dan Kekuasaan Dunia

Semua Bermuara ke Satu Titik: Selat Hormuz Dalam banyak perang, hasilnya sering tidak jelas penuh kejutan, penuh ketidakpastian. Tapi tidak untuk konflik Iran kali ini. Ada satu titik krusial yang menentukan segalanya yaitu Selat Hormuz.  Selat sempit ini bukan sekadar jalur laut biasa.Ia adalah arteri utama energi dunia — sekitar 20% suplai minyak global melewati sini.  Siapa yang mengontrol Hormuz, mengontrol aliran energi dunia. Dalam menganalisis situasi geopolitik saat ini, melihat kembali sejarah dan membandingkannya dengan situasi analog terbukti sangat membantu kita dalam membaca arah masa depan. Saat ini, perhatian dunia tertuju pada konflik yang melibatkan Iran, di mana ada kesepakatan universal bahwa hasil akhir dari ketegangan ini sangat bergantung pada satu hal krusial yaitu siapa yang memegang kendali atas Selat Hormuz. Pertaruhan Besar bagi Tatanan Dunia dan Ekonomi Jika Iran dibiarkan memegang kendali atas siapa yang bisa melewati Selat Hormuz dan menggunakan...
Postingan terbaru

Saham Oil MEDC Potensi Menguji Level Psikologis 2000

Saham oil related MEDC target 2000 ‼️ Laba dari PT Amman Mineral Internasional (AMMN) diperkirakan meningkat signifikan seiring kenaikan volume produksi tembaga dan emas. Kontribusi AMMN diperkirakan menyumbang sekitar 49–56% dari laba bersih konsolidasi MEDC pada 2026–2027. Selain itu kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan profitabilitas MEDC. MEDC memiliki rekam jejak positif dalam akuisisi aset migas yang menambah nilai (value-accretive M&A). Produksi minyak & gas MEDC pada tahun 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi sekitar 165–170 kboepd, meningkat 6–9% YoY, didorong oleh tambahan kepemilikan di Corridor Block dan proyek baru di Blok B Natuna. MEDC potensi diuntungkan dari meroketnya harga oil

Energy Shock Playbook: Oil Spike, Equity Correction

  Data dari Deutsche Bank (DB):  Reaksi pasar saham ketika terjadi konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak.  Data historis menunjukkan ketika terjadi konflik dan shock pasokan minyak, harga minyak rata-rata naik sekitar 26.9%, sementara pasar saham mengalami penurunan sekitar -6% dengan durasi koreksi sekitar 2–3 minggu. Apakah konflik akan mereda setelah 3 minggu?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia? Pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: kenaikan yield obligasi dan lonjakan harga minyak global . Kombinasi ini bukan hanya sekadar volatilitas jangka pendek, tetapi bisa menjadi sinyal perubahan fase siklus pasar. 1. Yield Naik = Risk Premium Meningkat Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun kini kembali naik ke kisaran 6.8% . Kenaikan ini mengindikasikan satu hal utama: Investor mulai meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia. Secara mekanisme pasar: Yield naik → harga obligasi turun Cost of capital naik Valuasi aset (termasuk saham) tertekan Lebih jauh lagi, dalam konteks equity: Higher yield = higher discount rate = lower valuation Inilah alasan kenapa kenaikan yield seringkali berbanding terbalik dengan pergerakan saham. 2. Minyak Naik = Tekanan Fiskal Indonesia Lonjakan harga minyak global menjadi katalis utama di ...

Market Shift 2026: Inflasi Naik, Komoditas Terbang, Crypto Tumbang

  ROTASI DARI RISK ASSET KE KOMODITAS Data YTD 2026 menunjukkan Commodities (DBC) menjadi aset dengan kinerja terbaik (+23%), disusul Gold (+19.5%). Sebaliknya, Bitcoin justru menjadi aset dengan performa terburuk (-22%). Commodities outperform, Bitcoin underperform kondisi serupa terakhir terjadi pada tahun 2022, ketika inflasi global melonjak akibat perang Rusia–Ukraina. Saat itu pasar mengalami rotasi besar energy dan commodities rally, Crypto dan sektor teknologi melemah. Jika pola historis tersebut kembali terulang pada 2026, maka skenario yang mungkin terjadi adalah Inflasi global kembali naik, market akan dihantui kenaikan suku bunga, Harga energi dan komoditas melonjak, Aset risk/high beta seperti crypto dan tech mengalami tekanan

The Great Rotation 2026: Dari Bitcoin ke Minyak & Emas

ROTASI : Tahun 2026 ada rotasi besar di pasar global dari aset berisiko tinggi seperti bitcoin menuju aset yang berkaitan dengan inflasi dan komoditas.  Harga minyak memimpin kenaikan dengan lonjakan sekitar 70% YTD, diikuti sektor energi yang naik sekitar 29% dan emas naik 18%. Sebaliknya, aset berisiko seperti bitcoin turun 19% Bitcoin turun lebih dulu, leading indicator dari penurunan risk assets lainnya. Selama beberapa tahun terakhir, Bitcoin dan pasar saham AS bergerak hampir searah. Namun kini pola tersebut mulai berubah. Bitcoin justru melemah sementara kapitalisasi pasar saham AS masih berada di level sangat besar sekitar $69 triliun. Perubahan korelasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Bitcoin bisa menjadi indikator awal melemahnya aset berisiko. Pelemahan Bitcoin saat ini bisa menjadi sinyal awal bahwa siklus risk asset mulai berbalik.

Batas Defisit 3% Terancam Diubah: Apa Risiko untuk Rupiah, Obligasi, dan IHSG?

  Wacana perubahan batas defisit APBN dari 3% berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi stabilitas ekonomi. Defisit yang lebih besar berarti pemerintah harus menerbitkan utang lebih banyak untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Peningkatan suplai obligasi ini dapat mendorong kenaikan yield SBN, sehingga biaya utang pemerintah menjadi lebih mahal dan berpotensi menekan sektor keuangan. Selain itu, pelebaran defisit juga dapat menurunkan kepercayaan investor terhadap disiplin fiskal Indonesia. Jika pasar menilai risiko fiskal meningkat, aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar obligasi maupun saham, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah. Analogi sederhananya seperti keluarga yang mulai sering menutup pengeluaran dengan kartu kredit . Selama masih terkendali mungkin tidak masalah, tetapi jika utangnya terus bertambah, bank bisa menilai risiko lebih tinggi dan menaikkan bunga pinjaman.  Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah potensi penurunan peringkat...