Alasan utama kenapa harga minyak tidak mudah kembali murah di bawah US$80/barel adalah karena pasar sekarang tidak hanya menghitung risiko perang AS–Iran. Pasar juga mulai menghitung kerusakan pada rantai pasokan energi global. Dulu pasar mungkin berpikir sederhana: kalau perang mereda, Selat Hormuz dibuka, maka harga minyak langsung turun tajam. Tetapi data dari Goldman Sachs menunjukkan masalahnya tidak sesederhana itu. Global visible oil inventories sudah turun sekitar 255 juta barel sejak awal konflik . Artinya, sebelum pasar benar-benar tenang, stok minyak dunia sudah terkuras duluan. Bahkan dalam skenario Selat Hormuz kembali dibuka, stok minyak global tidak langsung pulih dalam hitungan hari. Butuh waktu berminggu-minggu, bahkan bisa lebih lama, sampai aliran minyak, pengiriman, asuransi kapal, dan distribusi kembali normal. Inilah yang membuat minyak punya alasan kuat untuk tetap berada di level tinggi lebih lama: higher for longer . Selat Hormuz Dibuka Bukan Berarti...
Setiap kali yield UST 10Y kembali bergerak di atas area 4,3%, pasar mulai membaca satu pola yang menarik: Trump terlihat kembali melunakkan narasi terhadap Iran. Bukan berarti konflik benar-benar selesai. Tapi setiap kali tekanan dari pasar obligasi meningkat, narasi yang muncul dari Gedung Putih cenderung bergeser ke arah harapan negosiasi, potensi deal, atau sinyal de-eskalasi. Ini penting karena dalam konflik Iran saat ini, pasar tidak hanya membaca rudal, kapal tanker, atau Selat Hormuz. Pasar juga membaca yield obligasi AS sebagai alarm politik. Ketika yield naik terlalu tinggi, biaya pinjaman ikut naik, ekspektasi suku bunga tetap ketat, pasar saham mulai gelisah, dan risiko inflasi kembali menghantui konsumen AS. Meskipun ekspektasi inflasi mulai turun karena narasi de-eskalasi, pasar obligasi belum sepenuhnya percaya. US 10Y yield masih berada di atas level sebelum konflik, sementara ekspektasi suku bunga masih mencerminkan skenario higher for longer , dengan T...