Langsung ke konten utama

Postingan

Batas Defisit 3% Terancam Diubah: Apa Risiko untuk Rupiah, Obligasi, dan IHSG?

  Wacana perubahan batas defisit APBN dari 3% berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi stabilitas ekonomi. Defisit yang lebih besar berarti pemerintah harus menerbitkan utang lebih banyak untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Peningkatan suplai obligasi ini dapat mendorong kenaikan yield SBN, sehingga biaya utang pemerintah menjadi lebih mahal dan berpotensi menekan sektor keuangan. Selain itu, pelebaran defisit juga dapat menurunkan kepercayaan investor terhadap disiplin fiskal Indonesia. Jika pasar menilai risiko fiskal meningkat, aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar obligasi maupun saham, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah. Analogi sederhananya seperti keluarga yang mulai sering menutup pengeluaran dengan kartu kredit . Selama masih terkendali mungkin tidak masalah, tetapi jika utangnya terus bertambah, bank bisa menilai risiko lebih tinggi dan menaikkan bunga pinjaman.  Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah potensi penurunan peringkat...
Postingan terbaru

The Great Rotation 2026: Saat Komoditas Mengalahkan Bitcoin dan Saham Teknologi

Tahun 2026 ada rotasi besar dari aset risk/high beta ke aset inflasi/komoditas. Commodities outperform, Bitcoin underperform Tahun 2026 YTD terlihat Commodities (DBC) berada di posisi teratas (+23%), Gold (+19.5%) dan Bitcoin (-22%) berada di posisi terbawah Terakhir kali commodities berada di top performer dan Bitcoin di posisi terbawah adalah di tahun 2022.  Pada tahun 2022 Inflasi global melonjak, Harga energi meroket karena perang Rusia vs Ukraina, Harga bensin AS tembus $5/gallon.  Jika pola 2022 terulang maka skenarionya Inflasi kembali naik, Energy & commodities rally, Crypto dan sektor tech melemah. Rotasi dari RISK ASSET ke KOMODITAS Selama 10 tahun terakhir pasar saham global didominasi oleh saham teknologi. Bobot sektor ini di S&P 500 terus meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam sejarah. Sebaliknya, sektor energi dan material justru semakin kecil setelah bertahun-tahun mengalami underinvestment dan siklus komoditas yang lemah. Inflasi s...

Harga Minyak $100 Mengancam Asia: Pertumbuhan Turun, Inflasi Naik

  Menurut ekonom DBS, kenaikan harga minyak ke $100 dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan mendorong inflasi di banyak negara Asia.  Indonesia misalnya diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan sekitar -0,4%, sementara inflasi naik sekitar +0,7%. Negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand bahkan berpotensi menghadapi dampak yang lebih besar karena ketergantungan impor energinya tinggi. Selama harga oil masih di atas $80 sentimen masih jelek DURASI KONFLIK KUNCINYA Jika konflik lama → ekonomi global bakal tertekan Jika konflik cepat selesai → pasar saham bisa rebound cepat

IEA Lepas 400 Juta Barel, Tapi Pasokan Hormuz Hilang 20 Juta Barel/Hari — Cukupkah Menekan Harga Minyak?

IEA akan menyediakan 400 juta barel minyak ke pasar, yang merupakan pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah ada. Apakah bisa membuat harga oil turun di bawah 80 lagi? Berikut perhitungannya Jika G7 melepas 400 juta barel selama 6 bulan seperti krisis sebelumnya (Tahun 2022) Perhitungannya 400 juta barel ÷ 180 hari 2.2 juta barel per hari Bandingkan dengan supply yang hilang Supply yang hilang karena penutupan selat Hormuz 18–20 juta barel per hari, Sedangkan cadangan yang dilepas hanya 2.2 juta barel per hari Artinya hanya menutup sekitar 10% dari kekurangan supply. Zona aman harga minyak untuk ekonomi Indonesia di bawah $80. Selama perang Iran belum selesai dan harga minyak belum turun di bawah $80 estimasi IHSG masih berat buat naik.

Selat Hormuz Memanas: IHSG Tertekan Selama Minyak di Atas $80

  Dalam skenario normal tanpa gangguan, harga Brent diperkirakan stabil di kisaran $70 per barel. Namun jika Selat Hormuz ditutup selama 1 bulan, harga bisa naik mendekati $100. Jika gangguan berlangsung 2 bulan, harga berpotensi melonjak hingga $130–$140. Dalam skenario paling ekstrem, jika penutupan berlangsung 3 bulan, harga minyak bisa mencapai $150–$160 per barel, memicu krisis energi global. Bagaimana dampak ke ekonomi AS dan Indonesia? Dampak ke AS Harga minyak $100 memang menaikkan inflasi dan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi AS. Namun Amerika sudah menjadi net oil exporter, sehingga harga minyak tinggi juga menguntungkan sektor energi domestik AS. Oil naik di atas $100 tidak terlalu berbahaya bagi ekonomi AS. Dampak ke Indonesia Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar 65–68% dari total kebutuhan energi. Jika harga minyak terus naik maka dampak ke Indonesia adalah Defisit fiskal melebar, Inflasi naik, Rupiah dan IHSG bisa tertekan ...

Oil Crash Setelah Trump Redakan Konflik Iran: Inflasi Turun, Saham Rebound, dan Zona Aman $80 bagi Indonesia

Harga minyak anjlok $35 dari puncaknya dalam sehari. Penurunan terjadi setelah pernyataan Donald Trump yang menyebut operasi militer terhadap Iran hampir selesai, sehingga risiko gangguan pasokan minyak global dinilai mulai mereda. Selain itu, G7 sedang membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar juga jadi katalis penurunan harga minyak tadi malam Menurut pendapat Rikopedia Trump takut dengan potensi meroketnya inflasi, Operasi militer di Iran tidak secepat di venezuela. Oil anjlok = Saham rebound Trump estimasi tidak suka harga oil tinggi karena akan memicu naiknya inflasi dan suku bunga The Fed harus naik saat inflasi naik. Harga oil harus turun ke range 60-70 lagi supaya inflasi tetap jinak. Oil naik => Inflasi naik => Suku bunga naik => Bunga utang naik => Tidak menguntungkan buat AS Zona Aman Harga Minyak bagi Ekonomi Indonesia Harga minyak di bawah $80 per barel masih dianggap sebagai zona aman bagi perekonomian Indon...

Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Besar bagi APBN Indonesia

  Lonjakan harga minyak global tidak hanya berdampak pada inflasi dan biaya energi, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan besar terhadap  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)  Indonesia. Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor energi. Dengan ketergantungan impor minyak yang mencapai sekitar  65–68% dari total kebutuhan energi , setiap kenaikan harga minyak dunia langsung mempengaruhi beban fiskal pemerintah. Asumsi APBN dan Risiko Kenaikan Harga Minyak Dalam perencanaan APBN, pemerintah biasanya menggunakan asumsi harga minyak tertentu sebagai dasar perhitungan. Misalnya jika asumsi harga minyak berada di sekitar  $70 per barel , maka setiap kenaikan harga minyak di atas level tersebut akan meningkatkan kebutuhan subsidi energi. Jika harga minyak global melonjak hingga  $100 per barel , dampaknya terhadap APBN bisa sangat signifikan. Perkiraan dampaknya antara lain: Tambahan kebutuhan subsidi energi: sekitar  Rp236 triliun Ta...

Lonjakan Harga Minyak: Ancaman Besar bagi Ekonomi Indonesia

  Oil Supercycle dan Risiko bagi Pasar Saham Global Lonjakan harga energi kembali menjadi perhatian utama pasar global. Negara yang sangat bergantung pada impor energi seperti Jepang, Korea Selatan, dan banyak negara di Eropa menjadi pihak yang paling rentan ketika harga minyak melonjak. Indonesia juga tidak kebal terhadap risiko ini. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar  65–68% dari total kebutuhan energi nasional . Artinya, setiap lonjakan harga minyak global langsung memberi tekanan pada perekonomian domestik—mulai dari kenaikan biaya energi, tekanan terhadap inflasi, hingga potensi beban fiskal yang lebih besar jika pemerintah harus menjaga subsidi energi. Oil Supercycle dan Dampaknya ke Pasar Dalam fase  oil supercycle , harga minyak yang terus meningkat dapat menciptakan efek domino terhadap ekonomi global. Energi adalah komponen biaya utama hampir di semua sektor ekonomi. Ketika harga minyak naik tajam, biaya produksi dan trans...

Apakah Iran Bisa Memicu Resesi AS Berikutnya?

  Apakah Iran Bisa Memicu Resesi AS Berikutnya? Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar global. Beberapa analis mulai mempertanyakan satu hal penting:  apakah Iran bisa menjadi pemicu resesi berikutnya di Amerika Serikat? Menurut analisis Bloomberg Intelligence, perang bukanlah penyebab utama krisis ekonomi. Namun konflik geopolitik sering kali menjadi  trigger  yang memicu koreksi besar ketika kondisi pasar sudah terlalu mahal dan rentan. Saat ini, pasar saham AS berada dalam kondisi yang sangat “stretched”. Rasio  US stock market cap terhadap GDP berada di level tertinggi dalam hampir satu abad. Ini menunjukkan valuasi pasar saham sudah sangat mahal dibanding ukuran ekonomi riilnya. Menariknya, di saat yang sama  volatilitas Nasdaq 180-hari berada di titik terendah sejak 2018 , menandakan pasar terlihat sangat tenang. Kombinasi  valuasi tinggi dan volatilitas rendah  sering kali menjadi kondisi sebelum terjadinya perge...

Ceasefire Jadi Kunci: Jika Konflik Iran Mereda, Pasar Berpotensi Bullish Kembali

  Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi energi dalam negeri terus meningkat. Akibatnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar 65–68% dari total kebutuhan energi. Artinya, setiap lonjakan harga minyak global langsung memberi tekanan pada perekonomian Indonesia.   APBN 2026 dibuat dengan asumsi harga minyak $70/barel. Jika harga minyak naik Setiap kenaikan $10/barel defisit bertambah ± Rp50 triliun (0.2% GDP).   Kenaikan harga energi juga berpotensi memperlebar current account deficit, menekan nilai tukar rupiah, dan membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Rikopedia memperkirakan pemerintah punya dua opsi: 1️⃣ realokasi anggaran besar 2️⃣ menaikkan harga BBM subsidi

Dua Pilihan Sulit Pemerintah: Pangkas Anggaran atau Naikkan Harga BBM Subsidi

  Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi energi dalam negeri terus meningkat. Akibatnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar 65–68% dari total kebutuhan energi. Artinya, setiap lonjakan harga minyak global langsung memberi tekanan pada perekonomian Indonesia.   APBN 2026 dibuat dengan asumsi harga minyak $70/barel. Jika harga minyak naik Setiap kenaikan $10/barel defisit bertambah ± Rp50 triliun (0.2% GDP).   Kenaikan harga energi juga berpotensi memperlebar current account deficit, menekan nilai tukar rupiah, dan membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Rikopedia memperkirakan pemerintah punya dua opsi: 1️⃣ realokasi anggaran besar 2️⃣ menaikkan harga BBM subsidi

Lonjakan Harga Minyak Tekan Ekonomi AS: Mengapa Konflik Iran Diperkirakan Berakhir Setelah Maret

  Menurut analisis Michael Hartnett dari Bank of America (BofA) konflik antara AS dan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama dan berpotensi mereda setelah Maret. Lonjakan harga minyak sekitar 45% dan kenaikan harga bensin 15% telah menekan inflasi dan biaya hidup di Amerika. Dampaknya terlihat pada turunnya approval Donald Trump terutama pada isu ekonomi (40%) dan inflasi (36%). Karena tekanan politik domestik menjelang pemilu, ada insentif kuat bagi pemerintah AS untuk meredakan konflik agar harga energi turun dan sentimen ekonomi membaik.