Dolar AS saat ini menjadi mata uang cadangan global karena AS dianggap sebagai ekonomi paling dinamis di dunia serta menawarkan stabilitas dan keamanan. Akibatnya, permintaan tinggi terhadap dolar sebagai safe haven menyebabkan nilai tukar dolar terus menguat. Bahkan, tekanan naik terhadap dolar ini lebih besar dibanding dampak negatif dari defisit transaksi berjalan AS.
Namun, dolar yang terlalu kuat memiliki dampak negatif bagi AS, terutama dalam hal:
- Melemahkan daya saing ekspor AS, karena produk AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
- Menghambat pertumbuhan sektor manufaktur AS, yang mengalami penurunan akibat produksi yang lebih murah di luar negeri.
Untuk mengatasi hal ini, muncul gagasan Mar-a-Lago Accord, sebuah kesepakatan internasional yang bertujuan untuk melemahkan dolar AS dan menghidupkan kembali sektor manufaktur dalam negeri.
Apa Itu Mar-a-Lago Accord?
Mar-a-Lago Accord adalah konsep di mana AS menawarkan keamanan dan akses pasar kepada negara-negara mitranya, termasuk G7, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Sebagai imbalannya, negara-negara ini akan:
1. Melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menekan nilai dolar AS
2. Mendukung pertumbuhan sektor manufaktur AS, sehingga lebih banyak produksi dilakukan di dalam negeri.
3. Membantu menyelesaikan masalah utang AS dengan menukar (swapping) utang lama AS dengan obligasi US Treasury berjangka panjang (century bonds).
Secara sederhana, AS memberikan keamanan kepada dunia, sementara negara-negara lain membantu melemahkan dolar AS demi menghidupkan sektor manufaktur AS.
Dua Alat Utama untuk Mewujudkan Tujuan Ini
AS memiliki dua instrumen utama untuk mencapai tujuan Mar-a-Lago Accord:
1. Tarif Impor (Tariffs)
AS dapat mengenakan tarif impor yang tinggi pada barang dari negara lain, terutama dari Kanada dan Meksiko, untuk memaksa produksi kembali ke AS.
Tarif ini tidak hanya melindungi industri dalam negeri tetapi juga meningkatkan pendapatan pajak bagi pemerintah AS.
2. Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund)
AS dapat membentuk dana kekayaan negara yang digunakan untuk membeli mata uang asingseperti euro (EUR), yen Jepang (JPY), dan yuan China (RMB).
Dengan membeli mata uang asing ini, AS dapat melemahkan dolar AS secara langsung di pasar valuta asing dan meningkatkan daya saing ekspor.
Tiga Tantangan Utama
Implementasi Mar-a-Lago Accord menimbulkan tiga tantangan besar:
1. Perubahan Struktur Manufaktur AS Akan Memakan Waktu Lama
Untuk mengembangkan kembali industri manufaktur di AS, AS perlu menghapus Kanada dan Meksiko dari rantai pasokan otomotif dan industri lainnya.
Ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun dan dapat menyebabkan gangguan ekonomi dalam jangka pendek.
Pertanyaan: Bisakah AS mencapai keuntungan jangka panjang tanpa mengalami dampak ekonomi negatif dalam jangka pendek?
2. Dampak terhadap Inflasi AS
Globalisasi selama beberapa dekade terakhir telah membantu menekan inflasi di AS dengan menyediakan barang impor murah.
Dengan mendorong produksi dalam negeri, biaya produksi akan naik karena upah tenaga kerja di AS lebih tinggi dibandingkan di banyak negara lain.
Pertanyaan: Apakah strategi ini akan menyebabkan lonjakan inflasi yang tidak terkendali, mengingat biaya produksi yang lebih tinggi?
Reaksi Negara-Negara Lain
Jika AS menerapkan tarif tinggi dan memperketat ekonomi domestik, negara-negara lain mungkin akan mengurangi ketergantungan pada pasar AS.
Selain itu, negara-negara mitra mungkin akan meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan pada perlindungan militer AS.
Pertanyaan: Apa insentif bagi negara lain untuk mendukung Mar-a-Lago Accord dalam jangka panjang?
Kesimpulan
Mar-a-Lago Accord adalah strategi AS untuk melemahkan dolar, menghidupkan kembali manufaktur dalam negeri, dan mengatasi utang nasional. Namun, rencana ini menghadapi tantangan besar, termasuk gangguan jangka pendek pada rantai pasokan, potensi lonjakan inflasi, dan kurangnya insentif bagi negara lain untuk mendukung kesepakatan ini.
Jika strategi ini berhasil, AS dapat meningkatkan daya saing globalnya dan mengurangi ketergantungan pada impor. Namun, jika gagal, AS mungkin akan menghadapi inflasi tinggi, fragmentasi ekonomi global, dan kehilangan kepercayaan dari mitra dagang internasional. Sukses atau tidaknya Mar-a-Lago Accord akan sangat bergantung pada bagaimana AS menavigasi negosiasi dengan negara lain dan mengelola dampaknya terhadap ekonomi domestik dan global.