Ketegangan perdagangan global kembali memanas. Kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Donald Trump telah meningkatkan tarif efektif AS dari 2,2% pada akhir 2024 menjadi hampir 20% hanya dalam empat bulan. Jika kebijakan ini berlanjut dan diperluas ke sektor-sektor strategis, tarif bisa naik hingga 27%, melampaui rekor tarif era Smoot-Hawley yang memperparah Depresi Besar 1930.
Tarif, Konsumsi, dan Ancaman Resesi
Tarif adalah pajak atas konsumsi dan investasi. Dengan kebijakan baru ini, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan turun dari 2,5% menjadi 0,6%-0,8% pada 2025. Jika ditambah dengan pengetatan fiskal dan pembatasan imigrasi, risiko resesi AS melonjak hingga 60%. Pasar telah merespons negatif—futures S&P 500 turun 2,8%, Nasdaq 100 merosot 3,3%, dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun jatuh ke 4,06%.
Asia dalam Sorotan: Vietnam, Korea, Jepang, dan China Paling Terkena Dampak
Asia menjadi wilayah yang paling terkena dampak langsung. Negara-negara seperti Vietnam, Korea, Jepang, dan China mengalami lonjakan tarif hingga 47%, 16%, 20%, dan 48%. Negara-negara dengan proporsi ekspor tinggi ke AS (seperti Vietnam dengan 25% dari PDB) diperkirakan mengalami tekanan pertumbuhan yang lebih besar.
Namun, tidak semua sektor terkena dampak secara negatif. Produk semikonduktor dan farmasi dikecualikan dari daftar tarif, memberikan nafas bagi perusahaan besar di Taiwan, Korea, dan India.
Respons dan Adaptasi Kebijakan: China dan India Menyesuaikan Strategi
China: Telah mengumumkan stimulus fiskal sebesar 2% dari PDB dan diprediksi akan meluncurkan lebih banyak kebijakan untuk menjaga pertumbuhan tetap di atas 4,5%.
India: Dengan inflasi yang rendah dan ruang untuk pemangkasan suku bunga, serta negosiasi tarif bilateral yang sedang berlangsung, India berada dalam posisi relatif lebih kuat untuk bertahan dari guncangan ini.
ASEAN dalam Ancaman: Relokasi Produksi Terhambat
Rata-rata tarif untuk negara ASEAN-6 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam) mencapai 34%, di atas rata-rata global. Sektor padat karya seperti manufaktur pakaian dan alas kaki akan terdampak berat. Selain itu, insentif untuk relokasi produksi ke Asia Tenggara berkurang karena tarif tinggi, yang berpotensi menghambat arus investasi asing ke kawasan ini.
Kesimpulan: Jalan Terjal ke Depan
Tarif baru AS bukan hanya strategi dagang, tapi bisa menjadi pemicu perlambatan global. Negara-negara Asia harus mengandalkan stimulus domestik dan strategi negosiasi yang agresif. Sementara itu, investor harus mempersiapkan diri menghadapi volatilitas pasar yang tinggi